<p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">DALUNG (23/07/2026) –</span></span></b><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif"> Pelaksanaan Wimbakara Mesatua Bali oleh para Ibu Paiketan Krama Istri (PAKIS) se- Desa Adat Dalung membawa pengalaman positif bagi seluruh peserta yang berpartisipasi. Selain mendapat pengalaman baik, para peserta lomba memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya dan kearifan lokal Bali.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Ni Komang Juniantari, peserta dari Banjar Lebak mengangkat Satua Bali “I Belog Ngantén Ajak Bangké” yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama I Belog yang dikenal sangat polos dan kurang memahami keadaan. </span></span><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Suatu hari, saat melewati kuburan, Ia menemukan sesosok mayat perempuan yang dianggapnya masih hidup. Karena mengira perempuan tersebut hanya diam dan sangat penurut, I Belog pun membawanya pulang dan menganggapnya sebagai istrinya. Ia memperlakukan mayat tersebut layaknya istri, mengajaknya berbicara, memberinya makan, hingga tidur bersamanya. Namun setelah beberapa hari, mayat tersebut mulai membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap sehingga membuat warga sekitar datang untuk memeriksa dan akhirnya menyadari kejadian tersebut.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Dalam penampilannya, Ibu Juniantari menyampaikan pesan moral yang dapat menjadi sebuah pelajaran, yaitu pentingnya manusia untuk berpikir menggunakan akal sehat sebelum bertindak.. “<b><i>Pesan moral dalam kisah ini adalah anusia tidak bersikap ceroboh dan selalu menggunakan akal sehat dalam bertindak,</i></b>” ujarnya. Cerita ini juga mengajarkan pentingnya belajar, berpikir dengan bijaksana, serta memahami keadaan sebelum mengambil keputusan agar tidak menimbulkan kesalahan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Oleh karena itu, dengan terselenggaranya kegiatan ini mampu memberikan pelestarian Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali yang sejalan dengan program dan visi Gubernur Bali <b>“Nangun Sat Kerthi Loka Bali”</b>. Penampilan dari Ibu Ni Komang Juniantari dan peserta lainnya diharapkan menjadi pemantik masyarakat untuk percaya doiri serta bangga untuk menggunakan bahasa, aksara, dan sastra Bali dalam kehidupan sehari-hari.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">(KIMDLG-005). </span></span></b></span></span></span></p>
Banjar Lebak Gaungkan Kearifan Lokal Lewat Satua Bali
23 Jul 2026